Tampilkan postingan dengan label Indonesiaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesiaku. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juni 11, 2014

Pilpres 2014

Pembangunan Indonesia, menurut saya, harus kembali kepada ideologi dan identitas bangsa. Masalah yg telah dilalui bangsa ini untuk mencapai pembangunan yg baik pasti banyak, tapi untuk saat ini, itu bukan alasan untuk menyalahkan pemimpin yang ada ataupun mencerca pemimpin yang akan datang. Masa peralihan pemimpin sudah mulai tiba. Sudah saatnya kita berpikir analitik untuk mencari akar masalahnya dan mendapatkan solusi terbaiknya bersama pemimpin yang akan datang. Tapi siapakah dia?

Setiap orang punya ideologi masing2, itu wajar, tapi ideologi bangsa yang mana adalah Pancasila dan cita2 besar bangsa pada UUD 1945 adalah milik seluruh bangsa Indonesia jika ingin tetap bersatu dalam sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurut saya, saat ini hal tersebut yg harus menjadi acuan utama kita untuk memilih capres-cawapres 2014, untuk mendapati Indonesia yang lebih baik. Bangsa ini sudah terlalu lama jalan masing2, menjadi bangsa individualis dengan kepekaan sosial yg terus berkurang, mulai apatis pada kondisi politik bangsa, dan mulai pragmatis dan pesimis terhadap cita-cita bersama. Mari pertimbangkan, mana calon yang memiliki pemahaman ideologi yang baik, yg sesuai dengan dasar negara kita, yang solutif, yg tepat sasaran pada masalah utama bangsa. Bagi saya, calon seperti itu yang layak dipilih.

Bangsa ini punya banyak intelektual muda berbakat. Sudah bukan saatnya kita memilih karena tak ingin memilih. Sudah bukan saatnya kita memilih karena uang. Sudah bukan lagi saatnya kita memilih karena pilihan orang. Sudah bukan lagi saatnya kita memilih dalam ragu. Sudah bukan lagi saatnya kita pilih presiden sambil memejamkan mata di bilik suara atau hitung kancing saat memilih. Sudah saatnya kita memilih solusi bangsa dengan keyakinan melalui pemimpin yg kita pilih, dengan kepasrahan dan doa yang terus menerus kepada Yang Maha Adil dan Maha Kuasa.

Mungkin kaum yang sudah sangat berpengalaman berkata, "sudah cukup dengan janji manis". Bagi saya, pada apa lagi optimisme kita akan berpegang, pada apalagi optimisme kita berpijak, jika bukan pada cita2 dan mimpi besar? Membanding2kan capres-cawapres secara INDIVIDU tak akan pernah ada habisnya. Kelemahan demi kelemahan akan terus kita temukan. Kita tak akan pernah temukan pemimpin yang sempurna, karena kepemimpinan adalah seni. Bukan berarti jangan membandingkan, karena karakter pemimpin pun penting. Akan tetapi jika kita jadikan itu satu2nya landasan ataupun landasan utama, kita akan lebih mudah membenci dan mendiskreditkan orang.

Bangsa ini mengalami dinamika yang sangat keras. Masalah demi masalah kita hadapi, mulai dari masalah ekonomi, sosial, politik, hukum, kesehatan, pangan, energi, transportasi, daaaaannn sangat banyak aspek yg saat ini jika dibiarkan akan jatuh kepada kondisi kritis. Jika itu terjadi, yang sulit akan makin sulit, yang punya kemudahan bisa semakin tak peduli.

Kondisi yang mengerikan yang harus kita atasi bersama ini, butuh pemimpin yang baik. Pemimpin yg baik bukan hanya punya karakter yg baik, tapi sesuai dengan kebutuhan bangsa saat ini, pemimpin harus juga solutif. Capres-cawapres mana yang memberikan ide2 terbaiknya, itu yang harus kita pilih. Bukan lagi memilih si A karena tidak ingin memilih si B, karena dengan begitu kita ujungnya akan mudah goyah, mudah ragu, dan bermental "menyalahkan". Tapi kalau kita memilih karena visi, misi, dan solusi, kita akan memberikan dukungan yg positif untuk negeri dan tidak mudah goyah karena kampanye2 negatif. Kalau kita punya kesamaan visi misi, kemanapun langkah kita pergi di bumi ini, akan selalu memberikan sumbangan yang baik untuk kemajuan negeri kita ini.

Sabtu, Juni 07, 2014

Mau jadi dokter itu mahal?

Pendidikan dokter Indonesia memang edap sedap nikmat liatnya. Duitnya besar, aktivitasnya padat, karir terjamin. Begitulah orang memandang fakultas kedokteran.

Seminggu yang lalu, saya dan sepupu saya main ke sma tempat saya menimba ilmu dulu. Main2 saja, karena sepupu saya ini ingin sekolah disana katanya. Taunya, disana saya bertemu dengan seorang ibu yang juga ingin memasukkan anaknya ke sekolah itu. Ngobrol2, setelah si ibu tahu saya lulusan fk unpad, dia bilang "anak saya juga dulunya mau jadi dokter. Tapi setelah saya dengar kalau biaya sekolahnya tinggi, saya bilang sama anak saya supaya lupakan saja mimpi jadi dokternya". Saya senyam senyum dengernya. Saya bilang, "iya bu, betul. Masuk kedokteran itu mahal sekali biayanya. Banyak waktu yang harus dikorbankan, keluarga yang sering ditinggalkan, butuh energi lebih, dan butuh keinginan yang kuat. Kalau uang, itu relatif...".

Si ibu cerita lah berapa angka uang yang harus dikeluarkan untuk bisa masuk kedokteran. Besar sekali memang terdengarnya, bisa hingga ratusan juta. Tapi sungguh, itu bergantung pada universitas mana yang menjadi referensi. Universitas swasta memang harus diakui, beban keuangannya besar sekali. Tapi jangan dipukul rata untuk semua universitas. Dan biaya itu tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas pendidikannya kok. Yang perguruan tinggi negeri tidak sebesar itu. Apalagi di unpad, terhitung paling murah. *promosi dikit* hehehehe

Yang paling penting dari semua itu adalah jangan pernah patahkan semangat dan mimpi anak hanya karena urusan biaya. Masalah rezeki itu Tuhan yang atur. Kalau memang diberi jalan untuk diterima di Fakultas Kedokteran, pasti diberi dengan rezekinya, melalui jalan apapun. Percaya bahwa Tuhan Maha Adil, Pengasih, dan Penyayang. Banyak jalan rezeki yang bisa diupayakan. Banyak beasiswa dan bantuan untuk mahasiswa yang tidak mampu dan mahasiswa yang memiliki prestasi yang baik. Cukup tunjukkan bahwa anda layak menjadi mahasiswa fakultas kedokteran, dan anda harus banyak bertanya mengenai jalan2 rezeki yang bisa di tempuh untuk menjaga keberlangsungan kuliah di fakultas kedokteran.

Setiap orang berhak mengejar mimpinya. Setiap orang berhak membangun hidup impiannya. Jangan patahkan semangat itu. Jangan pernah.

Rabu, April 23, 2014

Belajar dari keadaan

Mencoba mencerna ungkapan prof. Tri tentang "belajar menghadapi masalah". Ini emang masalahnya naik turun, bikin hati juga naik turun, bikin iman agak naik turun, dan bikin logika ikutan naik turun. Tapi harus dijaga tetap tenang, tetap stabil, tetap jernih akal dan hati. Berat memang, tapi harus bisa kalau mau lulus dari cobaan ini.

Ternyata kita bisa belajar banyak hal dari proses ini. Tiba2 liat neneng fulki ngepost di TL Line dengan kalimat "gak usah mati-matian ngejar yang gak dibawa mati". Sungguh nampol banget sama diri sendiri. Strike banget. Bikin nanya sama hati nurani, apa yang sebenernya lagi saya perjuangin? Ego saya? Mimpi saya? Keadilan hukum? Kepentingan publik? Atau memang kebenaran? Sungguh, Allah yang Maha Haq. Saya gak tau apa ini, tapi yang saya yakini saya sedang memperjuangkan apa yg saya anggap benar, dan semoga memang itu jalan kebenaran.

Kemudian naik turun nya emosi saya kepicu sama naik turun nya emosi sejawat2 saya. Sempet ikut naik. Sempet ikut emosi. Sempet jadi marah2. Sempet jadi galak. Tapi sejenak, semua mereda. Hanya sesaat, hanya nafsu. Aiihhh....memalukan. Sampai2 di pm sama adik angkatan, diingetin untuk gak ikut emosi, gak ikut marah2, gak ikut kebawa arus. Coba lihat lebih dekat, lihat lebih teliti, dan kuatkan langkah. Tenang, tapi tegas. Jaga akal sehat. Kalau emosi, akal sehat bisa hilang semua.

Belajar untuk kemudian nggak banyak galau di sosmed. Cukup seperlunya. Perbanyak galau sama Allah saja.

Saya pun sangat salut sama orang2 yg ternyata ada di atas sana yg menentukan kebijakan. Ini bukan soal mudah. Bukan soal yes or no. Tapi juga tentang banyak kepentingan. Butuh telaah lebih dalam, butuh ilmu lebih baik, dan butuh wawasan lebih luas. Dan tentunya butuh mental yang kuat dan hati yg tenang. Saya mau seperti mereka (dalam hal positif) yg luar biasa itu.

Dan saat ini saya menemukan dosen favorit saya lainnya, Prof.Dr.Med. Tri Hanggono Achmad, dr. Terima kasih banyak, prof atas ilmu nya. Meski pertemuan saya dengan beliau tidak begitu banyak, tapi sejauh ini prof tri telah memberi saya banyak ilmu, pengalaman, inspirasi, dan semangat. Terima kasih, prof. Alhamdulillah :)

Senin, April 21, 2014

Menghadapi masalah

Ada 2 hal yg saya cermati saat ini.
1. Saya selama ini ga lulus2 dalam menghadapi masalah
2. Saya sedang disiapkan untuk amanah yg lebih besar dari yg dibutuhkan saat ini

Lelah kadang, emosi naik turun, tapi logika gak boleh berhenti, gak boleh lengah, gak boleh lalai. Ingat, niatnya baik, niatnya tulus, dan tujuannya besar. Perbaikan bangsa. Jadi, tetap pada jalur, tetap berlindung dari godaan buruk, tetap semangat. Badai mah pasti berlalu, tapi seperti apakah after effect nya, itu yg harus dipikirkan dan dipertimbangkan.

Banyak2 istighfar. Saat ini saya lagi gak bisa nahan emosi massa. Saya bener2 bingung. Bener2 ga tau mesti gimana. Semoga jalan yg saya tempuh ini benar. Semoga apa yg diperjuangkan adalah untuk surga Allah. Semoga saya ga memperjuangkan semata2 untuk dunia. Semoga kali ini saya lulus. Semoga saya bisa amanah. Hati nurani bergetar melihat manusia2 disekitar seperti apa. Jaga hati.... Jaga diri... Jaga idealisme...

Selasa, Maret 11, 2014

Status baru dokter indonesia

Topik terhangat dikalangan dokter baru lulusan UNPAD 2008 adalah mengenai internship. Sebuah program dimana dokter-dokter baru harus menjalani 1 tahun magang di daerah tertentu, dan didampingi oleh supervisor. Program ini ditujukan untuk mematangkan kompetensi dokter Indonesia dalam hal praktis, sekaligus mengisi kekosongan dokter yang ada di berbagai daerah di Indonesia. Sebelum menyelesaikan program ini, tidak ada dokter yang bisa memiliki Surat Izin Praktek (SIP).

Internship ini tidak jauh berbeda dari KKN yang dijalani mahasiswa tingkat akhir di program sarjana UNPAD, sebetulnya. Hanya durasinya yang berbeda, dan pembiayaannya yang berbeda. Pada internship, dokter baru harus menyelesaikan 1 tahun di RS, puskesmas dan klinik, sedangkan KKN hanya bermasyarakat selama 1 bulan. Tapi dasarnya sama, mengaplikasikan ilmu yang didapat selama program pendidikan secara komprehensif.

Sebagaimana kita ketahui, sebaran dokter di Indonesia ini sangat tidak merata. Lebih dari 60% jumlah dokter Indonesia berada di pulau jawa. Itupun adanya di kota-kota besar. Di Jawa Barat saja, masih banyak daerah yang untuk bertemu dengan dokter, butuh naik gunung turun gunung. Untuk bisa bersalin di tenaga kesehatan, perlu berjalan berkilo2meter karena tidak ada kendaraan umum yang melintas, seperti di daerah priangan timur, bahkan daerah Jatiluhur sekalipun.

Terlepas dari seperti apa program internship itu, namun hal-hal seperti kerasnya kehidupan para dokter ini luput dari sorotan media massa. Coba bayangkan, berapa banyak dokter yang harus kalangkabut di daerah sana karena pasiennya membludak, karena perbandingan dokter dan masyarakat yang terlalu besar, dengan kondisi beragam. Lelah lahir batin. Apalagi kalau yang menjalaninya adalah dokter internship.

Banyak polemik mengenai internship terjadi akibat persiapan menuju pemilu legislatif bulan depan. Apa hubungannya? Jelas berhubungan, karena ternyata SK dan Surat Tugas internship dokter-dokter baru ini belum bisa turun karena program internship tahun 2014 ini belum di acc oleh DPR RI. Alhasil banyak sekali dokter baru yang menganggur, SIP belum diberi, kapan bisa memulai internship pun tidak jelas. Dokter2 yang sudah menjalani program internship pun sedang berjuang untuk hidup, karena gaji mereka belum dibayarkan sejak januari, akibat belum di acc nya anggaran program internship sepanjang 2014.

Sebagai solusi alternatif, Dekan FK UNPAD ini mengajukan sistem internship yang terintegrasi dengan program pendidikan pascasarjana. Dokter yang menjalani internship akan diminta melakukan penelitian selama program internship itu berlangsung. Selain itu, para dokter internship pun direkrut sebagai dosen luar biasa untuk membimbing adik2nya yang sedang stase kedokteran keluarga dan ilmu kesehatan masyarakat. Menjaga ilmu dan idealisme melalui pendidikan dan penelitian. Menarik bukan?

Solusi alternatif dari Prof. Tri ini sungguh menarik sebetulnya, tapi masih saja menuai kritik dan tuntutan besar. Hal ini dikarenakan masih banyak dokter baru dan orang tua dokter baru yang menganggap sistem yang di ajukan Prof. tri ini sangat mentah. Tidak adanya bukti hitam diatas putih atas ungkapan-ungkapan beliau, tidak jelasnya status serta sistem pendidikan dan internship yang dijalani menjadi prioritas kritik yang dilontarkan. Prof. Tri juga menjanjikan untuk keberangkatan 1 april 2014 bagi mereka yang ingin megikuti program beliau tersebut dan akan ditempatkan di daerah priangan timur.

Diluar itu semua, bicara mengenai internship ini sedikit menggelitik. Hal ini dikarenakan status internship ini adalah menggantung. Dia berada diantara KKN dan PTT. Dikatakan KKN, bukan, karena mereka sudah lulus dari universitas dan mendapat gaji bulanan sebesar 2,5 juta yang dibayar setiap 2x selama 3 bulan. Tapi dinyatakan dokter PTT pun bukan, karena meskipun pergi ke daerah terpencil dengan berbagai resiko, tetap saja statusnya tidak diakui sebagai pegawai di RS, puskesmas, ataupun klinik. Tidak ada gaji ataupun tunjangan dari daerah maupun tempat mereka bekerja, padahal mereka yang memeriksa dan merawat pasien, hingga bertanggung jawab atas rekam medik pasien. Tidak semua tempat memberi upah atas jasa pelayanan mereka dari RS, puskesmas, atau klinik. Tidak ada jaminan keamanan dan keselamatan kerja bagi mereka, karena mereka bukan karyawan.

Lalu siapakah mereka? Ya, dokter internship, sebuah status baru setelah sarjana kedokteran-dokter muda-dokter internship-dokter umum/layanan primer-dokter spesialis.

Senin, Januari 06, 2014

Kuliah Kerja Nyata atau liburan?

Memori kembali ke 2,5 tahun yang lalu. Saaat kami menumpangi bis penuh perabotan, lebih banyak dari jumlah penumpang sepertinya. Hahaha. Hampir ada teman saya yang tidak dapat jatah kursi. Awal yang cukup membuat penasaran untuk kehidupan singkat di desa. Ya, kami akan tinggal 1 bulan saja di sebuah desa di garut sebelah selatan. Teman baru, lingkungan baru, budaya baru. "Let's rock!" Itu yang terbersit di kepala saya.

Saya ini rakus. Biarlah. Saya kira sebulan itu cukup lama untuk bisa memberikan memori yang banyak di kepala saya, tapi terlalu singkat untuk memberi saya pelajaran hidup. Bukan karena saya merasa tidak belajar banyak, justru sangat banyak, tapi saya mau lebih. Pelajaran hidup di desa memang tidak akan pernah ada habisnya.

Interaksi dengan dunia benar2 saya lakukan. Naik turun gunung setiap hari kami jalani. Saya berinteraksi banyak dengan orang2 disana, pepohonan, binatang2, bulan, bintang, dan hampir semua ciptaanNya yang nampak. Semua saya jalani dengan sepenuh hati. Bahkan teman saya katanya berinteraksi dengan mereka yang tak nampak. Entahlah.

Saya jalani semua dengan hati, hingga orang anggap saya terlalu sensitif, terlalu peka, terlalu dipikirin, terlalu care. Apalah itu namanya. "Saya hanya ingin menikmati", itu yang diniatkan. Bukan sekadar menikmati alam, tapi menikmati dinamika masyarakat yang ada disana. Saking menikmatinya, saya sampai gregetan, ingin meninggalkan jejak nyata disana sebagai kontribusi pada masyarakat, bagian dari masyarakat. Sayangnya, itu tidak terwujud.

Setelah waktu berlalu, saya masih belum beranjak dari memori itu. Masih melekat erat. Memberikan semangat dan obsesi baru pada hidup saya.

Orang bilang ini liburan. Ya, terdengar seperti itu. Namun sesungguhnya ini adalah KERJA, makanya disebut Kuliah Kerja Nyata. Hanya saja banyak yang tidak paham pada hal itu.

Kalau saya jadi dosen pembimbing lapangan, saya akan jadi dosen yang dibenci mungkin, karena pandangan saya pada hal ini terdengar berlebihan. Saya hanya ingin orang2 tahu, bahwa kurikulum dibuat bukan dengan main2. Ada dasar, tujuan, dan harapan yang menyertainya. Dan KKN ini adalah bagian dari itu. Kalau kita tidak paham intinya, lalu, masihkah kita layak lulus dan menyandang predikat 'baik' atau bahkan 'sangat baik' itu?

Ini lah problem rakyat. Kehilangan intelektual muda nya yang peduli pada masyarakat. Padahal, kita ada karena mereka yang disana menganggap keberadaan kita, membutuhkan keberadaan kita, bukan karena yang diatas2 itu mengabsen nama kita setiap hari. Menjadi manfaat, itu baru kaum intelek.

Minggu, Desember 15, 2013

Apa salah bpjs?

Bukan gak kasian sama orang yang lagi sakit, tapi ini justru bentuk perhatian saya. Hampir segala bentuk penyakit bersumber dari faktor sosioekonomi. Gaya hidup, itu yang paling utama. Saya sempet berpikir bahwa paradigma yang salah yang sudah membuat sistem kesehatan ini ambradul.

Contohnya....
Coba saja kalau masyarakat itu mengonsumsi gizi yg seimbang, mungkin penyakit jantung, diabetes, usus buntu, wasir, atau masih banyak lain nya, bisa dikurangi. Ga perlu mereka diakhir mengeluh gak punya uang untuk berobat. Atau pilihan lainnya adalah dalam berkendara. Kalau mereka memerhatikan rambu2, menggunakan pengaman (terutama helm) dgn benar, dan mengendarakan mesin itu dgn tenang, mungkin ga perlu ada head injury atau fraktur. Ujungnya, ga perlu mereka ngeluh ga punya uang buat operasi..

Pada dasarnya, masalah sosioekonomi sumbernya. Lalu, salah bpjs dimana?

Selasa, November 26, 2013

Last days as young doctor :)

Allah lagi menempa jiwa saya di detik2 terakhir sebelum lulus. Gimana saya nuntasin apa yang saya udah mulai dengan sebaik2nya, ga cuma lahiriyah tapi juga batiniyah. Fulki bener, kalo mau jadi dokter, yaa berperan beneran sebagai dokter, bukan terus2an main dokter2an. Ada tanggung jawab, peran, keharusan, dan hati nurani yang bergerak disana. Kalau dokternya gak kuat, gimana pasien2 mau kuat? Kalau dokternya kehabisan harap, lalu ikhtiar pasien2 itu mau kemana lagi? Ke mereka yang belum jelas pertanggungjawabannya?

Lelah ini luar biasa tapi ga boleh sedikitpun berpikir untuk menyerah. Mereka menaruh harap. Jika saat ini mereka menghujat habis para dokter, terpikirkah oleh kita bahwa mereka sedang memacu kita untuk belajar lebih banyak? Terpikirkah oleh kita bahwa mereka semua sedang dalam kegelisahan atas gaya hidup mereka semua? Terpikirkah oleh kita bahwa mereka semua sedang dalam fase denial atas perilaku mereka sendiri dan melakukan proyeksi? Jika dokter kehilangan nurani, harap, dan semangat, mau jadi apa dunia ini? selalu ada celah di sudut pandang lain untuk mengatasinya. Jangan pragmatis, tetap genggam idealisme. Panen kita hanya di akhirat. :)

Alasan selalu ada. Tapi ketepatan memilih alasan tidak selamanya ada.

Minggu, September 01, 2013

"Tapi"

Life is not easy, but not that hard.
Kebanyakan orang indonesia itu kalo bermimpi ada 'tapi' nya. Kebanyakan khawatir dengan hal yg belum terjadi. Kebanyakan takut nya. Kebanyakan nonton film horor siih. Hahahaha *apa hubungan nya?

Minggu, Agustus 25, 2013

Famed: promosi dan prevensi

kunjungan ke sd untuk penjaringan atau screening di 3 sekolah, 5 kelas, 150 siswa. hal ini membuat saya kesel banget. masa iya saya nemuin banyak anak sd yang telinga nya penuh dengan kotoran telinga yang memadat dan sudah sangat keras. untung saya saat itu membawa alat untuk mengeluarkannya. alhasil, jadilah saya dokter tukang ngorek2 telinga.

saya kesal bukan karena harus ngorek2 telinga, saya kesal sama orang tua siswa. ini anak diurusnya gimana sih, sampe telinga mereka begini? kan kasian. saya ngebayangin, mereka selama sekolah pasti dengarnya tidak begitu jelas. gimana caranya mereka bisa nyaman sekolah? setelah saya keluarkan kotoran telinga nya, mereka bilang "enakan, dok. terasa lebih lega". dalam hati pengen bilang, "ya iyalah kalo kotoran telinga nya sampe segumpalan gede begitu pasti penuh telinga nya rasanya. emaknya gimana sih", tapi yaa wajar mungkin masyarakat kurang paham.

belum lagi anak2 yang ternyata gak bisa melihat dengan jelas. mereka harusnya pakai kacamata, tapi sama orang tuanya tidak teridentifikasi. lama kelamaan mata mereka bisa jadi malas. lama kelamaan mereka akan sulit belajar. mau jadi bangsa yang cerdas bagaimana kalo sekolah saja terganggu sejak kecil begitu dan tidak ditanggulangi.

hal-hal simpel macam begini ini yang jadi bagian puskesmas. kecil, tapi penting. pencegahan dan promosi kesehatan. kalau orang2 protes tentang KJS yang menghabiskan biaya besar, para tenaga medis harusnya mikir 100x. kenapa masyarakat2 itu harus dateng ke RS dan layanan kesehatan lainnya untuk pengobatan? apalagi yang di RS sampai meningkat padahal sistem rujukan sudah dibuat. itu tandanya, fenomena gunung es terbongkar dan data kesehatan semakin jelas, sehingga peran puskesmas dalam promosi dan prevensi harus semakin efektif kalau mau penggunaan biaya kesehatan menurun. bukan malah protes mulu. kerja yang bener. *ngomelin diri sendiri*

Minggu, Agustus 18, 2013

Dokter Keluarga

apa sih dokter keluarga itu? banyak orang bingung dengan istilah dokter keluarga di Indonesia, apalagi tugas dan perannya. saya pertama kali diperkenalkan dengan hal ini 2 tahun yang lalu.

Intinya, dokter keluarga adalah seorang dokter, baik dokter umum mauoun spesialis, yang melakukan aktivitas kedokterannya dengan memandang keluarga sebagai bagian dari perawatan dan memandang individu secara menyeluruh, termasuk urusan psikososial.

Keluarga adalah bagian yang sangat penting dari kehidupan manusia, secara biologis, psikologis, maupun sosial. melalui keluarga kita bisa tumbuh sehat, melalui keluarga kita bisa semakin cerdas, melalui keluarga kita menemukan karakter diri, dan melalui keluarga kita bisa berkontribusi. keluarga adalah bagian penting yang membentuk mental seseorang, apakah akan menjadi kuat ataupun lemah. Bersama keluarga, kita bisa memiliki penghidupan yang lebih baik.

Sayangnya, tidak banyak orang menyadari itu, atau mungkin bukan tidak menyadari, tapi kenyataan terlalu pahit untuk mereka mengiyakan hal itu. mungkin banyak orang yang justru merasa bahwa keluarga adalah sumber masalah, sumber kesulitan hidup, penyebab adanya penyakit di diri mereka, penghambat perkembangan diri, atau bahkan keluarga yang menjadi penyebab kegagalan hidup mereka. ini masalah sudut pandang.

Saya jadi teringat seorang teman saya, dia saat ini menjadi penulis, hipnoterapis, dan sekarang mulai merambah ke urusan pernikahan. Di usia sangat muda, 23 tahun, dia berani keluar dari jalur pendidikannya untuk memperjuangkan sesuatu bernama 'keluarga'. Bukan karena keluarganya bermasalah, tapi justru dia memiliki cita-cita agar keluarga-keluarga di Indonesia ini menjadi keluarga kuat yang menguatkan, yang harmonis, pokonya sakinah mawadah warohmah bisa terwujud.

memang tidak mudah mewujudkan keluarga yang sakinah, mawadah, wa rohmah. banyak pasien2 yang datang ke klinik atau sarana kesehatan karena berbagai keluhan yang sebagian besar bisa direduksi dengan mengatasi urusan psikososial. terutama ibu-ibu dan bapak-bapak, keluarga sering menjadi faktor pencetus. sering saya menemukan pasien dengan keluhan "pusing", ketika di deskripsikan seperti apa, ternyata pasien ini "rungsing", bukan "pusing". ada juga ibu-ibu yang datang mengeluh ini itu ternyata karena selama ini terlalu lelah mengurus anak-anaknya yang banyak. Ujung2nya, hanya dengan curhat dan konseling, urusan menjadi tuntas. *rungsing dalam basa sunda berarti sensitif dan ingin marah-marah terus

paradigma yang ada bahwa dokter hanya mengobati keluhan biologis, hal-hal klinis harus mulai diubah. masalah kesehatan sebagian besar muncul dari masalah sosio-ekonomi. Oleh karena itu, keluarga sebagai unit terkecil yang menjadi supporting system harus menjadi bagian dari perawatan dan berpartisipasi dalam hal perawatan pasien.

Selasa, Agustus 13, 2013

Famed #2

Pagi2 bandung lagi dingin banget. Berangkat 20 menit lebih lambat dari sebelumnya, taunya meenn! Jalanan kosong melompong. Alhasil, jam7 (lagi) udah di puskesmas. Gapapa, saya dgn senang hati menunggu temen2 dateng. Seperti biasa, kehidupan puskesmas selesai jam 12an. Karena masih 'pagi', saya udah niat mau ke toko buku. Pergilah ngangkot dengan cepat, soalnya panaaaassass banget. Sampe ubun2 serasa mau meledak. Hahaha *lebay*

di angkot ketemu nenek2 yg duduknya sembunyi dibelakang bayangan saya, gara2 panas. Terus doi ngajak ngobrol, tapi duduknya ngebelakangin, soalnya silau. Jadi saya bingung, ini nenek ngobrol sama siapa sih? Hahahaha

Setelqh sampe di toko buku, saya asik keliling2 liat semua buku *serasa dunia milik sendiri*. Tiba2 ada om2 kok kayanya ngiter deket saya mulu. Kemana saya pergi, dia ngikut2 gitu. Serem kaan. Eh, tiba2 dia nanya buku yg saya pegang itu buku apa. Nanya2 laah dia, ngajak ngobrol ttg buku. Saya masih awkward, takut, menghindar.

Akhirnya saya putuskan bayar buku yg saya pilih, supaya cepet terhindar dari orang itu. Berhubung di toko itu ada fasilitas sampul dan saya selalu nyampul buku2 saya, ya saya tungguin disitu. Pas lg numggu, si om2 tadi lg antri di kasir, ngeliatin mulu. Ga enak feeling nih. Taunya bener, duduk di sebelah saya dan ngajak ngobrol. Nanya2. Dia bilang sih dia alumni fisika itb 2001 sama s2 nya di TF itb. Takut berlama2, saya ambil buku saya dan segerakan pulang.

Naik angkot pertama, ada nenek2 lain yg tiba2 nyodorin hp nya minta tolong diliatin sms dan tlp anak2nya. Lama2 saya jadi operator hp nya. Okesip gapapa, bantuin orang. Tapi yg heboh pas ujungnya, dia cerita ttg keluarganya, anak cucunya. Seangkot jadi kepo.

Coba yah, ini bandung isinya hari ini ramah banget sama saya :))

Senin, Agustus 12, 2013

Family Medicine #1

Hari pertama ini kok PR banget yah. Hahaha

Famed di puskesmas babakan sari, kiaracondong. Kan deket tuh dari rumah, diniatkanlah untuk naik angkot dari rumah sampe ujung jalan babakan sari, tepat dibawah fly over. Ternyata angkotnya masih sepi. Yap! Jam stengah 7 pagi h+4 lebaran. Sebagian orang masih mudik kali yaa.. Jadi agak sulit cari angkot, sampe akhirnya bapak yg temenin sampe ada angkot.

Sampailah di ujung jalan babakan sari. Berpikir sejenak. Kalo dari alamatnya, jl.Babakan sari no 183, mestinya cuma kirang dari 100 rumah yg dilewatin. Ga nyampe 1km dong harusnya. Ah, sayang kalo naik beca atau ngojeg. Cuma dikit. Itung2 olahraga, mending jalan kaki.

Jalan kaki lah sambil liat kanan kiri, liat tipe2 rumah warga, ada banyak warung2, ada TPS juga, ada sekolah dsb. Baru jalan benerapa meter, saya liat ada rumah ya alamatnya no.11. Saya pikir, 'wah kalo ini aja udah 11, 183 pasti deket.'. Tiba2 beberapa meter kemudian, saya malah liat alamat rumah no.4. Ah, dem! Kenapa jd 4 lagi nomornya??? Karena gengsi balik lagi dan nyari becak, saya jalan aja terus sambil mikir, 'kok saya manja sih? Di belanda aja jalan terus gapapa. Ini mah dikit palingaaanm' sambil nenangin diri maksudnya.

Kejadian berulang waktu liat rumah nomor 60. Sebelahnya bertuliskan 40an. Gila banget ini! kapan nyampenya kalo gini terus? lama2 nomornya jd 1 lagi. ngulang dong saya??! Karena saya mikir ini pasti jadi jauh deh., udah lumayan jauh aja masih seginian nomornya, saya sempet ragu buat nerusin jalan kaki. Untunglah ketemu (akhirnya setelah 20 menit jalan kaki agak cepat) sama sebuah sd yg katanya tanda keberadaan puskesmas itu. Saya tanya2 dikit sama tukang ojeg, ketemulah itu puskesmas.
Jam 7.10 temen2 belum ada yg dateng. Janji jam 7.30, dan mereka dateng jam 7.27. Oke, in time sekali. Parkir lah mereka depan kodim. Tiba2 dgn seramnya, bapak2 tentaranya dateng nanya2 kita dan agak ngomel karena parkirnya ga lapor dulu. Hahaha ampun, pak! Maafin temen2 saya!

Puskesmas sih asik aja. Tapi saya nya yang ga santai. Masa sampe jam 10 ga dusuk, lama2 pusing, pucat, cape banget, tangan dingin. Berasa lemah banget. Akhirnya pindahlah ke bagian penapisan yg bisa duduk. Dan ketemu puluhan pasien langsung seger. Dari KU pasien, ngira2 DD masih kebayang lah yaa.. :p segerlah pokonya.
Taunya jam 12 puskesmas tutup. Saya pulang lebih awal jadinya. Naik angkot, eh udah siang masih jarang bgt juga angkotnya. Naiklah angkot margahayu, eh, mogok deuih si angkotnya di binong. Akhirnya niatin neduh sambil nunggu angkot panyileukan. *ga ada tempat neduh selain dibalik tiang listrik *guna banget

Pulang ke rumah kepanasan bgt jadi cape ga jelas, tidur, bangun2 malah migraine.




Sungguh yah.. PR banget!! -_______-"

Selasa, Desember 04, 2012

Belanda dan sekelebat pertanyaan

Belanda, si negri tulip, katanya. Padahal, tahukah kalian kalau, konon, bunga tulip terindah adanya di turki. Kenapa aku bilang 'konon'? Karena aku juga ga tau turki. hehehe
Belanda, si negri kincir angin. Mungkin saking rendah datarannya, saking panasnya disana, kipas angin ditaro dimana2 gitu ya, kayak di dufan. *udik*

Sejarah bilang, belanda adalah bangsa yang menjajah Indonesia. Pengaruhnya luar biasa sekali. Bahkan, nama budaya yang berkembang di Jakarta, betawi, itu berasal dari istilah Batavi atau orang Romawi menyebutnya Batavia. Mungkin kita gak pernah berusaha cari tau, kenapa sejarah menamainya itu. Ternyata itu adalah nama para sesepuh jerman yang tinggal berbatasan dengan Belanda, hanya dipisahkan oleh sebuah sungai. Sekarang, area itu sudah jadi bagian dari Belanda. Padahal, suku asli di Jakarta atau Sunda Kelapa, adalah orang sunda juga. Jadi sebenernya budaya betawi itu dari Belanda kah? Budaya seperti apa yang masuk itu sebenernya?

350 tahun sungguh waktu yang tidak akan pernah singkat untuk sebuah penderitaan bangsa kami, tapi menjadi sekejap untuk kami belajar dari perkembangan mereka. Mulai dari ilmu sains, sosial, ekonomi, sampai sepak bola. Nampaknya sangat sulit untuk kami belajar dari mereka. Bukan aku yang mengatakan begitu, tapi kenyataan yang mengesankan begitu.

Orang muslim, apalagi berjilbab, sulit survive di eropa, katanya. Saya ingin melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi disana. Bagaimana kehidupan sosial mereka, cara mereka menjadi yang terbaik versi mereka. Selain itu, jadi hal yang menarik bila bisa belajar bagaimana bertoleransi dalam beragama di negara yang sekuler, masalah yang juga banyak terjadi disekitar kita.

Banyak hal yang menurut aku misterius dari negara dan bangsa tersebut. Kalo secara geografis mungkin tidak terlalu istimewa, tapi aku kira kekuatan mereka ada pada sistem dan sdm. Meskipun hidup di tanah rendah, mereka nampak sangat optimal menjalani itu. Mungkin karna 1 hal, they admit their weaknesses, so they try to be stronger and stronger. Beda kali ya, sama orang Indonesia yg terlalu arogan merasa bangsa ini punya potensi besar tapi jadinya menye2. Kurang kesadaran akan ancaman bisa jadi. *abis ini pasti banyak yg punya sejuta penolakan atas kalimat itu :)

Jumat, September 30, 2011

Pendidikan Karakter

setuju. itu yang saat ini sedang dibutuhkan oleh negeri ini, Pendidikan Karakter.
lelah liat di TV, denger dimana-mana tentang kebobrokan negara saya karena OKNUM!! saya tau di pemerintahan itu tidak semua salah, tidak semua jahat. tapi oknum ini membuat masyarakat lelah menyaksikan televisi, lelah memperhatikan perkembangan bangsa, lelah mendengar keluhan tentang negeri.

dokter memiliki tugas sebagai teladan masyarakat, tapi banyak dokter tidak berkatakter. itu poin masalahnya. dan Prof. Yudi latief memaparkan teori2nya tentang pendidikan karakter, ia mencakup 3 hal : (1) moral dan agama, (2) citizenship, (3) personality development. 3 poin yang saat ini sedang ada di zona abu-abu negara kita. pengetahuan agama yang tinggi tidak menjamin seseorang bebas dari korupsi. departemen agama saja saya tau, tidak lepas dari kasus yang ada. citizenship yang saat ini tak lagi diindahkan oleh warga negara indonesia. dan terakhir pengembangan pribadi yang entah mengarah kemana.

Rabu, Agustus 03, 2011

jepang ??

rima : "hahahaha. ternyata gak lolos seleksi ke jepang nyaa.. ya iya laah...yang lolos yang keren gokil.."
a : "next time ikut event yang lebih besar.. ikut seleksi dokter ke jepang aja.. hahaha "
rima : "Gak mauuu... Absolutely NOT! buat apa saya nuntut ilmu di Indonesia, hidup dari tanah air Indonesia, tp mengabdi di negri orang dan negri sendiri kita abaikan?! I Loooovveee Indonesia.. :p "

Rabu, Februari 02, 2011

idealisme

Idealisme.
Siapakah dia?
Dimanakah dia berada saat ini?
Dan masihkah dia hidup bersama kita sekarang?
Atau kau hanyalah pahlawan tak bernama yang kita temukan di tanah yang menggunung itu?

Idealisme.
Siapakah dia?
Nyata kah keberadaan nya?
Atau kau hanyalah nama bagi mereka yang mati untuk sebuah kemanusiaan?

Idealisme.
Siapakah dia?
Dimanakah kau dilahirkan? Dan siapakah ibumu?
Atau kau hanyalah kisah manis yang dikarang oleh penulis ternama di negri ini?

Idealisme.
Siapakah sesungguhnya dia?
Tunjukkan padaku, jika memang ia ada dan masih hidup dalam hati para pemimpi(n).




Terimakasih, untuk pahlawan yang pernah membangunkan idealisme dari tidur panjang nya.
Dan berjuanglah para pemuda, jangan biarkan idealisme itu kembali terlelap dalam mimpi panjang.

Rabu, Oktober 27, 2010

pergerakan mahasiswa

Kualitas pergerakan mahasiswa tidak bergantung pada saya, kamu, dia, ataupun
mereka. tapi pada KITA SEMUA.


pemikiran random untuk mensupress ego ketika muncul kesombongan dari dalam diri.
*astaghfirullah

Rabu, Juni 16, 2010

Rindu Bersatu

by : Indonesia Unite

Ada satu yang hilang
dari negeriku
tak seperti dahulu saling bersatu

Ada yang tlah berubah
dari bangsaku
hilangnya kasih sayang itu menyakitkanku

Percuma ada cinta
kalau tuk bertengkar terus
percuma ada rindu
kalau tak saling bersatu


Jangan takut menjadi Indonesia
Teruslah maju negeriku
Teruslah bertahan bangsaku
Dan tetap indah, seperti dulu


Ada satu yang hilang
dari negeriku
tak seperti dahulu saling bersatu

Ada yang tlah berubah
dari bangsaku
hilangnya kasih sayang itu menyakitkanku

Percuma ada cinta
kalau tuk bertengkar terus
percuma ada rindu
kalau tak saling bersatu

Popular