Senin, Juni 18, 2012

bicara tentang jodoh

di masa2 kayak gini emang mungkin sudah mulai saatnya pikiran kita disibukan tentang hal bernama 'jodoh'.
saya sebenernya sudah 4 tahun ini gak mikirin lagi yg begitu, gak mikirin lagi rasa itu kayak apa. bahkan udah sangat lupa akan masa2 kelam itu. yes, i called it 'masa kelam', karena menurut saya proses di masa itu emang bener2 salah. rasa yg ada, ya biarlah tetap jd rasa belaka.
kali ini, banyak temen2 disekitar saya mulai sibuk dengan urusan begituan. saya sih masih jadi penonton 'pertunjukan dari Allah' yang terjadi sama mereka, berusaha mencari klimaksnya, maknanya, pesan moral diantaranya, dan menunggu endingnya :D saya belajar banyak dari mereka.

di mata Allah, proses menentukan prestasi, hasil duniawi, itu urusan takdir Allah. itu yang perlu di ingat. dulu biarlah sudah berlalu. kita hanya perlu menatap kedepan dengan proses terbaik yang seharusnya. saya tiba2 tertegun dengan kata2 temen saya, "janji itu karena Allah, bukan semata2 karna apa yang nampak, bukan karena rasa yang timbul dan bisa Allah cabut sewaktu-waktu" (kira2 begitu intinya). Allah memberikan rasa ini, ya sudah, syukuri. bukan berarti kamu punya rasa ini terus kamu mau nya itu, itu nafsu.

pertanyaan yg lagi muncul adalah 'how do we know the right one?' saya juga gak tau, gak pengalaman. hahahaha

terus ada temen lain yg bilang 'saya mau Allah ridho dengan proses yg saya jalani'. ridho itu datang ketika kita melakukan apa yg diharapkan, sob. dipikirnya dengan melakukan apa yg menurut kita gak salah terus Allah mau ridho? Allah bisa saja mengizinkan, tapi belum tentu Allah ridho. emangnya Allah siapa woy seenak jidat kita salah terus minta2 Allah ridho. :)

dan meminang anak orang itu bukan kayak anak kucing dikasih 'mahar' ke yg punya, urus surat2, terus jadi. masalah jodoh itu urusan 2 keluarga yang menjadi satu, urusan orang tua, urusan masa depan, urusan banyak hal. bukan tentang hari ini, tapi tentang pertaruhan surga-neraka nya hidup kita kedepan nya juga. menikah jg salah satu jalan dakwah, lu kira kayak nyomot anak ayam dari induknya. gak bisa grasak grusuk minta buru2. kocak banget.

lucu siih. tapi yg pasti, saya belum mau disibukan dengan urusan begitu, dan saya masih ingin sendiri menikmati 'permainan neurotransmitter' yang Allah kasih ke saya dan berujung manis kemudian hari :)

Selasa, Mei 29, 2012

passion

bicara tantang passion emang ga akan pernah ada habisnya. live your life passionately, then let the sun shine for you. people will never recognize you, unless you are MUCH BETTER or you are DIFFERENT. and there's nothing differs you all, not religion, not genders, but PASSION. yes, life is not about how to be famous, but to inspire more, you need to be famous. it's the reality. may be we have the same passion, but the way we live is different. because i always live the passion passionately in my way. :D

co-assisten

artinya asisten nya asisten. jadi kalo keset yaa kesetnya keset *ups ngga deng becanda :p awal masuk coass langsung dihadapkan ke stase besar yang katanya keras. oke, emang berat tapi residen dan konsulen nya ga sebeban itu kok. justru yang berat saat coass adalah menjaga hati. bener kata teh nada, yang diperlukan di coass itu cuma : "masuk dan keluar, tetep jadi diri sendiri". kalo nggak gitu, bisa2 keluar jadi orang yang lain. rutinintas yang dijslani tiap hari dan dinamika nya yang buat semua terasa jadi beban. setengah tujuh pagi udah siap untuk menjalani follow-up. selesai itu, sarapan pagi sebentar, lalu masuk ke poli dan bertemu pasien "bertema" sampai siang. istirahat siang (kadang gak ada waktu istirahatn siang), kami semua harus langsung siap preseptoran sampe jam empat sore. kalau gak ada jaga, pulang ke kosan dengan tugas setumpukan, beban mental karena merasa bodoh, sehingga buku2 yang ada menanti sekali untuk kami perkosa. *frontal *lebay. kalo ada jaga, yaaa sampe pagi mantengin pasien2. besoknya mulai lagi dengan follow-up daaaaann selanjutnya. kadang, kalau liat residen, ada yang nyeleneh, ada yang hati2sekali, ada yang kayak orang bisu cuma diem aja depan kita, kadang juga ada residen yang rewelnya amoe minta dibakar. hahahaha. itu justru bikin saya malah bingung, bingung bersikap. akhirnya, pilihan terberani adalah 'peduli amat, gue mau jadi diri gue sendiri. kalo salah, marahin juga gak apa2, berarti setelah itu gue belajar'. sampe ada residen yang pusing gw tanya2 mulu ttg hal detil dan bilang 'dek, udah laah...let's forget the detail' yang membuat gue tercengang. dok, itu pasien looh...orang looh... kejadian mal praktek didepan mata, kejadian pasien meninggal, pasien emergency yang minta pulang aja dan gak mau operasi. gak habis pikir. dan semua terjadi mengalir begitu saja. hati ini lama kelamaan jadi dipaksa kebal. sampai akhirnya ada 'bisikan' yang bilang 'udahlaah, dokter mah klinis yaa klinis aja ga usah pake ngajar. dokter mag kudu netral, jalani aja profesi klinis nya'. padahal nggak gitu harusnya. dokter itu profesi yg bisa liat kondisi masyarakat hanya dengan mengamati rumah sakitnya dan pasien2nya. dari sosial, ekonomi, politik, budaya, dan banyak lagi. saya bilang, BODOH dokter dan calon dokter kalo tidak BERGERAK atau tergerak hatinya melihat kondisi seperti sekarang ini. cuma diam menerim nasib dengan alibi 'dokter tidak boleh berpolitik praktis', menurut saya sangat tidak tepat. dokter harus jadi orang yang ada di zona hitM-putih dan membuat zona abu2 memiliki kejelasan, hitam atau putih. alhamdulillah saya pelan2 merapat kembali ke ISMKI dan mengembalikan lagi idealisme yang saya punya. butuh lingkungan yang kondusif untuk menjaga idealisme, tapi lingkungan itu dibentuk dan kita yang menentukan akan di lingkungan seperti apa kita. :D

Senin, Mei 28, 2012

se--ma--ngaaaaatttt kakaaaa ^^

aku hidup untuk mempercantik diri saat menemui Allah suatu hari nanti.
dan sebuah kemenangan hanya akan diperoleh melalui ketaatan. semangatt kakaaaaa ^^

Selasa, Maret 13, 2012

seperti burung~~~kyaaaaaaa!

Saat itu usiaku 5 tahun. Lapangan itu cukup luas untuk aku berlari menghabiskan seluruh energiku. Bermain layang-layang, bermain sepak bola, berlari dan jatuh lalu aku berdiri kembali untuk kemudian melanjutkan berlari. Hari itu cuaca mendung. Burung-burung berbondong-bondong dari arah barat, menandakan hujan akan segera turun. 
"bu, lihat ada burung banyaaakkk!” teriakku pada ibu yang duduk memandangiku dari halaman rumah. Kebetulan, lapangan itu ada tepat disamping rumahku. Ibu hanya tinggal keluar menuju halaman rumah untuk bisa melihat bahwa aku bermain dengan aman. “iya, nak. Itu tandanya mau hujan. Ayo, cepat masuk!” ajak ibu padaku. Aku pun berlari menuju ke rumah.
Sambil membuka pintu rumah, aku bertanya, “bu, kenapa burung itu terbang? Apa yang dia lakukan diatas sana?”. Ibu menjawab, “sama seperti kita, dia pindah dari satu tempat ke tempat lain. Dia mencari makan dan melihat seisi bumi. termasuk kalau kamu nakal, burung-burung itu bisa saja lihat”.
Tidak berhenti sampai situ, perbincangan ringan ibu dan anaknya ini berlanjut hingga meja makan. Otak ku yang masih kecil ini terus bertanya, “kenapa dia harus terbang? Kan bisa jalan kaki. Ayam juga punya sayap, tapi kenapa tidak bisa terbang? Terus kenapa kita harus jalan kaki kalau ada cara untuk terbang?”. Ibu mulai kebingungan menghadapi anaknya yang kritis ini. “Burung itu kakinya kecil sekali, nak. Kalau dia berjalan kaki, kapan dia sampainya? Makanya Allah buatkan dia sayap. Ayam memang punya sayap, tapi paru-parunya tidak sama, jadi dia tidak bisa terbang tinggi seperti burung, hanya sedikit saja. Nak, setiap makhluk Allah itu berbeda-beda, itu supaya kita saling tolong-menolong. Kalau kita kan tidak punya sayap, jadi tidak bisa terbang, tapi kita punya ini” kata ibu sambil menunjuk ke keningku.
Ya, aku tahu, manusia punya akal, hewan tidak. Dengan mulut penuh, aku bertanya, “Memang apa bedanya yang berakal dan tidak?”. Jawaban ibu dari pertanyaan ini selalu aku ingat. Ibu bilang, “yang berakal itu adalah mereka yang selalu berpikir. Bukan cuma orang yang pintar tapi juga harus berakhlak mulia. Coba kamu lihat orang gila, dia itu kehilangan akalnya. Makanya dia tidak sekolah, tidak sholat, tidak ngaji, apalagi ingat Allah.”
“tapi enak ya, bu, jadi seperti burung. Bisa kemana saja, bisa lihat seisi bumi. Pasti anginnya kencang. Itu seru!” ujarku polos. Ibu hanya tertawa dan berkata, “tidak ada yang nampak lebih enak daripada jadi apapun yang kamu mau, nak, tapi hanya Allah yang tahu yang terbaik buat kamu”. Aku, bocah sok pintar ini, terdiam dan dalam hati berkata, “aku mau punya sayap. Aku mau terbang. POKOKNYA AKU MAU TERBANG! AKU PASTI BISA PUNYA SAYAP DAN TERBANG SEPERTI BURUNG! AKU MAU LIHAT SEISI DUNIA!”.
Padahal aku ini tidak ingat kalau saat itu, manusia sudah menemukan teknologi bernama pesawat terbang sejak puluhan tahun lalu. Kalau sekarang ibu tahu tentang ini, pasti dia tertawa mendengar kebodohanku.

Popular