Jumat, April 19, 2013

Belanda #12 galau sebelum pulang

kalau orang kira saya sudah menemukan jalan yang saya ingin tempuh kedepannya, saya rasa mereka salah. kali ini saya mulai ragu. ya, 2 minggu lagi saya pulang dan melanjutkan kehidupan sebagai koas. stasenya masih banyak, tapi saya jadi enggan ikut koas lagi. rasanya saya sudah ada di zona nyaman sekarang. hanya saja, saya sadar, saya ini tidak se-spesial yang lain, yang bisa dengan seenaknya berpendapat. saya juga bukan orang yang bisa dengan mudah mencerna semua ilmu yang saya terima. saya juga bukan anak rajin yang selalu mencatat disetiap kuliah. ditambah lagi, saya bukan orang yang bisa dengan percaya diri menunjukan kualitas terbaik saya. ya, saya tidak se-spesial yang dipikir orang. saya sangat sadar, saya harus berusaha banyak jika saya ingin menempuh jalan di kesehatan masyarakat ini. saya harus belajar lebih rajin kalau saya mau ada di kesehatan masyarakat. ini yang buat saya ragu. saya ga suka jadi nampak bodoh, padahal saya memang bodoh. saya ingin jadi pintar, padahal saya memang punya banyak kekurangan. non-sense.

kali ini keraguan ini semakin membuat langkah berat. ada di zona nyaman tapi tidak cemerlang, atau ada di zona yang tidak senyaman ini tapi saya tau saya akan berjuang sangat keras ketika saya ada di tempat tidak nyaman dan saya bisa belajar banyak dari prosesnya. mental saya ini mental tantangan yang berusaha lebih dan lebih ketika tantangan semakin berat dan berat. saya tau ini ga selalu baik, tapi saya emang ga bisa jamin grafik hidup saya nanjak terus kalo ga gitu. hehehe *kayak gitu juga ga jamin siih hehehe*

ah, galau galau galau. galau mesti gimana. langsung usaha lanjut kuliah di bandung atau nunggu beres internship dan cari kuliah diluar? atau lanjut kehidupan di klinik dan spesialis? *yang terakhir ini macam pilihan keseribu gitu* hahahaha

Senin, April 08, 2013

koas ape-ing

Napak tilas pemikiran tahun lalu, secara prinsip ga banyak berubah. setidaknya, itu sudah cukup Alhamdulillah buat kehidupan koas yang begitu hecticnya dengan klinis. Kalau saya gak salah, minggu kedua bulan April 2012 itu tanggal saya ujian pertama koas IPD sama dr. Rachmat Gunadi, Sp.PD. dan itu setahun yang lalu. waktu itu rasanya sedih, sakit hati, meski sadar itu bener, tapi saya sekarang saya ngerasa ini bukan cuma masalah saya, tapi banyak koas lainnya.

kita (saya) sering nelen bulet2 rekomendasi pengobatan, teknik pemeriksaan, dan teori2 lainnya tanpa tau dasarnya dari mana, kenapa mesti begitu, untuk apa begitu, dsb. kayak doger monyet di pinggir jalan, ga pake mikir, nurut aja kata majikannya. Dan mestinya, istilah Ape-ing, alias memonyet, alias jadi doger monyet, terus berlaku bagi koas2 yang bertahan dalam keadaan tidak berpikir, termasuk saya ini. ayooo berubaah :)

"Kamu itu kerjanya Ape-ing, alias doger monyet. Cuma niru2 kata orang. Ga membaca. Ga mikir."
- dr. Rachmat Gunadi, Sp.PD, di Ruang Rheumatologi Lt.4 IPD-RSHS, April 2012.

Belanda #11 What a day!

Hari yang ditunggu akhirnya dateng, Prof.Tri dateng ke Nijmegen, Belanda untuk urusan kerjasama dengan Radboud University Nijmegen. udah di wanti2 sama dr.ghozali untuk ngeluangin waktu, dan ternyata bener, diajak jalan kita.diluar dari ditraktir makan sama beliau, hari ini saya berpikir banyak, punya ide banyak.

Bener kata Prof.Tri, secara metode belajar, Fk Unpad itu comparable dengan metode disini. Ini karena di Belanda yang problem-based itu baru Maastricht University aja. Yang membedakan justru ada dari sisi kultur belajar, pendidik, dan fasilitas infrastruktur.

kultur belajar disini luar biasa beda. mereka dibiasakan berpendapat dengan leluasa tanpa merasa akan disalahkan. ini juga ga terlepas dari aspek pendidiknya dalam merespon setiap jawaban orang2 meski kadang jawaban konyol kalo dipikir. Sedangkan saya, kelamaan di koas jadi pasif. Rasanya takut mau bicara, bertanya, atau berpendapat. Rasa takut di bilang goblok itu datang tiap mau bicara. Makanya suasana kelas jadi gak dinamis, cara berpikir kita pun jadi gak dinamis. Belum lagi kalo tutorial udah males, ngantuk, bosen denger orang ngomong, tutornya juga abal. Bahayaaaa! padahal, otak kita akan lebih terstimulus ketika kita mencoba berpendapat, kemudian direspon, berpikir, dan semakin dinamislah kerja otak kita. ujung2nya, berpikir jadi lebih cepat. saya belum pernah baca penelitiannya, tapi buat saya: it works!

Disini, otak kita diarahkan untuk punya mindset yang ga cuma klinis, tapi juga aspek2 non-klinis. Secara, kita kuliah bareng sama temen2 biomedical science yang dituntut memahami aspek klinis sebagai bagian dari pengembangan ilmu biomedis. Lagipula, aspek kesehatan itu ga sebatas masalah diagnosis, obat, tindakan medis dll, tapi juga aspek ekologis, epidemiologis, genetika, mikrobiologi, daannn masih banyak lagi. Pola pikir ini penting untuk dijaga oleh seorang dokter tapi di koas emang susah banget untuk tetap begitu. Masalahnya, panggilan "dek, koaasss!" dan ketajaman mata konsulen membuat kita sulit punya akal sehat, justru sibuk dengan aspek klinis sampai lupa urusan non-klinis nya. kalo saya bilang, ini namanya "Ga Punya Hidup", bisa tetep sehat aja udah untung. hahaha

selain itu, kita juga ngobrol ttg riset dan iklim di FK Unpad. Iklim riset yang dikenalkan di Radboud University  ke saya bikin saya cukup takjub. mereka dibiasakan hidup dengan 5 jurnal seminggu, minimal. hal itu bikin jurnal dan penelitian adalah hal biasa buat mahasiswa disana. waktu semester akhir, kita dibiasain dengan jurnal lewat critical appraisal di semester 5. terlambat rasanya. Di Radboud, mahasiswanya digiring untuk terbiasa berdiskusi berbasiskan jurnal. teksbuk masih dipake sih, tapi proporsinya beda. Disini mereka distimulasi untuk bisa menyimpulkan research question, dan mengesankan kalo bikin research question itu gak susah looh. Dari 4-5 jurnal aja, kita bisa bikin bab 1 kok, dalam sehari. Ga percaya? We did it! Hanya saja, sistem belajar, dinamika kelas dan lingkungan, dan pengajar mesti ambil andil masalah ini.

Pengalaman2 itu gak akan pernah ada di FK Unpad selama pengajarnya masih bermental "kolot". Istilah jaman dulu, di daerah sunda, yang namanya sekolah itu "sidakep bari balem". artinya, duduk manis dan mulut ditutup. mau jadi apa kita kalo terus begitu? manut2 sama kata guru aja, ga mencoba kritis, dan gak terbiasa berpendapat. Kalo pendapatnya beda, nilainya jadi jelek, itu non sense. Yang penting pola pikirnya. Hafalan bisa hilang suatu waktu, tapi pola pikir akan terbawa sampe kita mati, karena dengan pola pikir itu pula kita hidup.

kalo kata dr.Rachmat Gunadi, Sp.PD, tahun lalu,

"Koas2 itu kerjanya Ape-ing, alias doger monyet. cuma niru2 kata orang. Ga membaca, ga mikir."
*agak JLEB! tapi bener juga sih, kebanyakan ditelen bulet2 tanpa pake mikir

"landasan bergeraknya mesti dirapikan mulai dari masalah epidemiologi, dan semua ini gak akan tercapai kalo nulis status aja masih berantakan" 
- Prof.Dr.Med.Tri Hanggono Achmad, dr. di Rumah Makan Pasundan, Nijmegen
*kata2 ngeJLEB lainnya tapi emang ETA PISAAAANNN, PROF!!!



Masih banyak inspirasi2 lainnya yang didapet hari ini yang bingung mau mulai ditulis dari mana. Alhamdulillah aja ga cukup kayanya untuk inspirasi setiap hari yang saya dapet disini.

Gara2 pergi kesini ini, saya makin mantap pengen jadi dosen FK UNPAD!
saya pengen terlibat ngebangun sekolah yang mendidik saya 5 tahun untuk bisa jadi wadah pembelajaran terbaik di Indonesia dan mampu bersaing di dunia.
*lebay kayak ajang miss Indonesia*

Rabu, April 03, 2013

Belanda #10

Ketakutan aku sejak awal terbukti. Sejak seminggu sebelum ke Belanda, aku dag dig dug takut luar biasa. Takut karena bahasa inggris aku gak aktif, takut karena otak aku isinya kosong, takut karena sistem kuliahnya yang beda, dan takut sama pergaulannya.
Bulan kemarin itu sungguh mengejutkan buat aku. Untuk menghapus ketakutan, satu persatu. Aku berjuang sendirian. Aku gak punya temen yang bisa bantu, gak ada temen berbagi, gak ada temen saling menjaga. Cuma Allah satu-satunya yang ada sama aku.
Pertama, bahasa inggris aku yang jelek banget ini pelan2 membaik. Membiasakan diri dari mendengar orang bicara dan bertanya basa-basi. Awalnya deg2an banget, sampe pernah menjawab pertanyaan dengan sangat bodoh. Apalagi presentasi kasus outbreak yang pertama di minggu pertama, sudahlah, semua orang tahu kalau aku dapat nilai terburuk dikelas.
Kedua, aku takut nampak bodoh. Aku tahu aku tidak terlalu bodoh diantara mereka, tapi kemudian aku sadar, kultur yang berbeda. Mereka sangat outspoken, segala macam ditanyain sampe ga penting sekalipun menurut aku. Aku maunya nanya kalo emang ga bisa dijawab dari buku, kayak biasanya kultur di fk. hingga akhirnya aku tahu bahwa kultur yang mereka bangun itu bukan tanpa tujuan, tapi supaya membiasakan pola pikir kritis dan kreatif. Komentar bodoh pun dianggap "partisipatif" mungkin.
dan sekarang terbukti, aku yang sudah tahu bodoh, tidak paham apa yang dibahas, masih saja malas belajar. oh tidak!!! sekarang hasilnya saya dapat nilai terburuk dikelas. masih lulus sih, tapi tetep aja paling jelek. :(
Keempat, aku takut sama pergaulannya dan bener aja, mereka seneng banget clubbing. Bahkan, rencana jalan2 tour kota pun mesti diselingi sama miras. Allah, takuuuutttt :( aku takut banget pas mereka ke pub, aku ga ada temen, pengen pulang tapi gak tau jalan :'( fix ga tahan sama baunya, mau muntah rasanya.

sempet kepikir, kenapa Allah takdirkan aku disini kalau untuk survive aja saya mesti mati2an? bahasa inggris aku jelek, aku juga gak bisa dapet prestasi yang baik di kelas, dan aku ada di dunia asing yang pergaulannya ga aku banget?
aku tahu, FK Unpad pun ngirim aku bukan untuk "unjuk gigi" bahwa kami punya mahasiswa2 yang baik secara akademis. Kalau itu yang mereka inginkan, pasti bukan aku yang dikirim. kalau memang mereka ingin FK Unpad pengen banyak mahasiswa yang punya pengalaman abroad, kenapa mesti aku? banyak temen2 aku yang bisa pergi juga. Kalo FK Unpad pengen orang yang bisa bersosialisasi dan membangun hubungan baik sama orang2 disini, mungkin mereka juga akan mengirim orang lain.
Tapi aku menikmati dan mensyukuri ini. Setidaknya, setelah disini aku belajar banyak, dan aku punya keyakinan akan mimpi2 aku. Aku menemukan jalan yang aku inginkan.
Alhamdulillah :)

Selasa, April 02, 2013

Belanda #9 Amsterdam tour


Awalnya seneng sama jalan2nya. Seru, tour keliling Amsterdam. Liat banyak hal menarik (yang sebagian udah ditunjukin Dilan sebenernya). Sempet main game aneh juga di depan Maddam Tussaud, makan di resto Vietnam, dan akhirnya diajak menepi di pub karena pada kedinginan. Awalnya udah ragu, tapi aku masih tenang karena ada Mbak ajeng (yg udah lama dan terbiasa disini) ikut. Taunya aku mendapat pengalaman serem. Takut banget deh. Putri malah ngobrol sama Mbak Ajeng. Untung Allah tolongin aku lewat Alma sama Lidian. Akhirnya om2 serem yang aneh itu pergi dari aku. Serem, ga mau lagi2 ke tempat begitu.
Udah malem, dingin banget, dan berharap French fries atau waffle hangat, taunya malah dibawa ke pub berikutnya yang geje banget. Udah jelas terpampang didepan kaca “smoking weeds” dan mereka tetep masuk. Plis laaah, bau alcohol yang kalian minum aja udah aku bilang “GA TAHAN”, bau rokok biasa aja aku udah complain terus, tapi masih aja tempat begitu yang dituju. Aku udah pengen kabur rasanya. Untung Mbak Ajeng juga menyelamatkan kita dengan ngajak pulang.
Iya, aku pengen pulang. Aku dari awal udah bilang aku gak mau pulang larut, besok ada kuliah dan aku mau istirahat dengan proper. Mereka emang udah mabok kali yaa, jadi ya udah, ga ada yang peduli juga. Agak tenang awalnya pas seorang anak Indonesia cukup ngejagain kita, tapi pliss banget, ternyata dia gak ikut pulang dan malah lanjut clubbing. Allah, aku takut ada di lingkungan kayak gini. Lain kali aku bakal tegasin mereka dengan keras untuk ga bawa aku ke tempat gitu lagi.

Popular