Sabtu, Oktober 25, 2014

You and the stem cell

One day, a teacher said to me, “you’re still a stem cell. You are still looking for your life, looking for what you are going to be…”
In my heart, I whispered for sure, “no, you are wrong. You don’t know me. I know for sure what I am going to be. I know what I want to do”
Then I did what I was saying.
It’s been six months since I started. Yes, you were right. This wild life is unkindly let you grow up easily. Every single thing you want should be paid with your life. Time, energy, responsibility, and heart should be given. Yes, heart. Things came up by beating your heart up and down. Sometimes it let me relaxed and enjoyed every single thing, but sometimes it came rushed, unpredictable, and get you down.
Now I start to realize myself. I start to know that you were right, sir. I looked around and saw a lot of big things were around me. A lot of great people. A lot of things i can do. And people needs me in many ways. And again, life is about choices. Which way of life you choose will miroring yourself.
However, i found a lot of interesting way of life, yet life is chance and comes once.

Sabtu, Oktober 18, 2014

bandung one day trip :)


Belajar banyak tentang bandung dari kawan baik yang ga salah saya pilih :) he is a good tour guide. He knows bandung very well and he has a good taste of humor. He made my friends happy and satisfied with our treat.

Ketika bandung dan seisinya sudah menjadi sesuatu yang biasa saja karena terlalu sering dikunjungi, ternyata masih banyak yang belum saya tahu tentang behind the stories nya. Selalu ada cara untuk menemukan keunikan diantaranya :)

Dan mempelajari seluk beluk kota ini selalu menjadi hal yang menarik, in many ways :)

sudah mulai lelah, tapi selalu bahagia


serunya menikmati budaya seni sunda, fun!


Tetap excited di tengah kemacetan kota bandung yg haft sekali, karena banyak hal yg bisa diceritakan dari setiap sudut kota ini


tari topeng, khas sunda dengan karakter angkuh, pemberani, pemarah ;)

Senin, September 15, 2014

Proses menjadi dewasa

A lot of things came into my life. Harus dipahami bahwa saya ada di fase transisi hidup, antara mahasiswa yang beranjak dewasa dan manusia dewasa yang sudah harus bisa berdikari. Saya sedang belajar untuk "tidak peduli". Bukan untuk menghindari masalah, tapi untuk memilah mana yang benar menjadi tantangan dan mana yang jadi hambatan.

Kadang, tak semua hal yang datang ke hidup kita harus mendapat perhatian penuh. Hidup kita bukan untuk membahagiakan setiap itu, hidup kita untuk mendekat padaNya. Kita tak akan pernah bisa membahagiakan semua orang, tapi kita bisa mencari jalan terbaik dalam menghadapi banyaknya multitasking yang harus dilakukan.

Seorang senior berkata, "semua tergantung sudut pandang. Kalau ini dianggap masalah, akan selamanya jadi masalah dan kamu akan selalu bingung kenapa masalah ini tak kunjung selesai. Coba kamu ubah sudut pandangnya menjadi hal yang positif, maka kamu akan menjalaninya dengan lebih mudah, ikhlas, dan insyaAllah barokah..." Ya. Masalah bisa sekejap jadi keseruan tersendiri jika dilihat dari sudut pandang yg berbeda.

Perbedaan dalam hidup adalah wajar dan akan selalu ada, tapi yang penting adalah memahami perbedaan itu dan memahami cara menghadapinya. Sekarang, saya hidup di kemajemukan cara berpikir manusia. Menemui berbagai jenis pola pikir, kepentingan, dan tujuan hidup, membuat saya harus belajar menjaga idealisme dalam toleransi. Sulit. Ini part yang tidak mudah.

Tidak jarang saya harus bersitegang dengan orang lain hanya karena hal kecil yang saya pikir tidak perlu dipermasalahkan. Kadang saya yang harus menahan emosi atas sikap dan perilaku orang lain. Tapi saya adalah orang yang ketika tidak suka akan sesuatu, saya tidak akan ragu untuk mengatakannya, dengan atau tanpa konflik setelahnya. Bukan karena saya emotionally detached, tapi saya mau jadi merdeka dalam berpendapat dan bersikap. Tapi saya juga harus diingatkan jika memang cara saya salah. Saya tidak selamanya benar.

Saya selalu teringat pada seorang guru luar biasa yang mengajarkan saya esensi sesungguhnya dari MERDEKA. Negeri ini harus benar2 merdeka, dan semua itu harus berawal dari jiwa2 yang hidup diatasnya. Merdekakan jiwamu, tanpa keluar dari norma dan aturan yang berlaku. Dan terkadang, menjadi merdeka harus melalui proses belajar menerima saat pendapat ditolak, saat ide tak diterima, saat sikap diabaikan, saat usaha tak dilirik, dan lainnya. Kita harus tetap tegak berdiri. Bukan memaksakan kehendak, tapi sadari bahwa yg ditolak adalah pendapatnya, idenya, sikapnya, bukan membenci individunya, menjelekkan orangnya, atau merendahkan diri. Itulah merdeka.

Biar orang menunjukkan sikap yang "menjajah", sikap kita tetap harus merdeka. Karena itu yang diperjuangkan oleh leluhur kita.

Inilah yang disebut proses pendewasaan, proses untuk mencapai ketenangan dalam menghadapi persoalan, berpikir jernih dalam tekanan, dan mengambil keputusan dengan bijaksana.

Minggu, Agustus 31, 2014

this is me

banyak yang bertanya, "Rima, bagaimana rasanya jadi dosen? apa saja yang kamu kerjakan? memangnya bisa hidup dengan uang hanya segitu?"

saya cuma bisa bilang, "saya sedang belajar hidup". saya bukan sedang bekerja untuk mendapat uang, karena jika itu alasan saya, langkah saya kurang tepat dengan menjadi dosen. saya bukan sedang menjadi si serba bisa dengan belagak jadi dosen, tapi saya sedang belajar berbagi. saya sedang belajar untuk menggali ilmu lebih banyak dan saya belajar berbagi dengan cara seperti ini. Yang terpenting adalah saya belajar jadi diri sendiri, sosok yang disiplin, bertanggung jawab, dan mandiri, karena menjadi dosen bukanlah keistimewaan besar yg harus dibanggakan dan diperlakukan spesial..

mungkin rekan-rekan yang sedang bergelut di dunia klinis juga merasa sedang berbagi, dan memang benar cara kita saja yang berbeda. pada dasarnya hidup adalah bergantung pada hati. ketika hati berkata ingin berbagi, dengan cara apapun pasti intinya adalah berbagi.

saya selalu memaknai bahwa hidup adalah tentang berbagi. melalui karya apapun yang kita lakukan, sudah seharusnya bisa memberikan dampak bagi sesama. yang perlu diingat adalah berbagi tak selalu harus berawal dari memiliki banyak. saya saat ini masih sangat dangkal ilmunya, masih sangat tidak tahu apa2, masih sangat belum berpengalaman, tapi saya pernah belajar sesuatu dan saya ingin berbagi kepada orang2 yang kelak akan mengamalkan ilmu tersebut.

apa saja yang saya lakukan dengan menjadi staff di fk unpad, banyak, bervariasi, dan berenergi. bukan hanya berenergi berarti menguras energi, tetapi berenergi berarti disana kami berbagi pancaran energi. saya bertemu banyak orang dan saya terinspirasi banyak dari mereka. melalui berbagai pertemuan dan berbagai forum, saya belajar untuk terus berusaha jadi lebih baik. duduk satu meja dengan sosok2 yang saya kagumi tapi tetap harus bisa menunjukan kualitas diri sehingga tidak mengecewakan yang telah memberi amanah, tetap harus bisa menyadari berbagai kelemahan diri, dan tetap harus bisa jadi diri sendiri.

this is me, and tomorrow you'll find the better me :)

Jumat, Agustus 08, 2014

Another twist of life

Departemen Biokimia dan Biologi Molekuler.

Siapapun yang kenal baik dengan saya selama kuliah, mungkin bingung dan kaget kenapa tiba2, random, saya ada di departemen ini. Dulu saya lantang bicara tentang hal-hal yang sama sekali bukan ilmu biomolekuler. Dulu saya gesit bergerak disekitar hal-hal politis. Dulu saya bahkan tidak melirik sama sekali ilmu biokimia. Tapi serunya, cerita perjalanan saya banyak twist yang bikin saya banyak tersenyum :)

Keputusan ini bukan saya yang minta sama pak dekan, saya cuma berdoa sama Allah supaya ditempatkan di departemen terbaik menurutNya. Saya punya kehendak, saya punya cita-cita dan mimpi, tapi saya sadar bahwa saya ini banyak keterbatasan.

Awalnya kaget, heran, bingung, dan bertanya2 saat menerima keputusan ini, tapi akhirnya saya sadar bahwa banyak hal yang selama ini kita rasa kita paham padahal sebenarnya tidak. Allah yang Maha Tahu.

Awalnya merasa ini keputusan aneh yang saya belum bisa terima. Padahal, sesungguhnya mungkin ini jalan terbaik buat saya. Pilihan saya sebelumnya belum tentu akan memberikan signifikansi hidup yg lebih baik daripada kalau saya di departemen ini. Allah yang Maha Bijaksana.

Awalnya merasa ini tidak akan seru, karena pilihan saya bisa sangat banyak main politik nya, dan itu dinamis. Itu pikiran saya. Padahal, mungkin saja yang politis2 itu bisa membawa saya semakin bersikap abu2, atau bahkan hilang idealisme. Disini, saya tidak tahu, alasan apa yang bisa membuat saya melunturkan idealisme yang sudah saya bangun. Allah yang Maha Pelindung.

Akhirnya saya sadar, saya ditunjuk oleh seorang guru besar biokimia, untuk bergabung di departemen tersebut. Bukankah ini salah satu kehormatan yang seharusnya tidak saya sia-siakan? Saya sangat percaya pada beliau, bahwa keputusan yang diambil tidak pernah main-main, selalu ada pertimbangan yang baik dari beliau sebelum mengambil keputusan.

Kalau dilihat dari keilmuan, banyak yang ilmunya lebih hebat dari saya untuk ditempatkan disana. Kalau dilihat dari kematangan berorganisasi, saya percaya banyak yang lebih senior yang lebih baik dari saya. Tapi rasanya terlalu gegabah kalau saya menganggap ini keputusan yang salah, karena pasti ada alasan lain yang tidak kalah pentingnya yang membuat keputusan ini harus diambil, meskipun saya belum tahu.

Oleh karena itu, saya sudah memantapkan hati, Bismillah, saya akan jalani, mulai banyak2 belajar, dan mulai menyusun kembali rencana2 kehidupan yang mungkin memang harus berubah. Saya tidak mau mengecewakan Allah. Setiap amanah yang Allah berikan, pasti selalu disertai dengan rezeki, kapabilitas, dan hikmah yang membuat kita terus berpikir dan bersyukur.

Popular