Selasa, April 29, 2014

Fk unpad dan obrolan warung kopi

Alhamdulillah.
Rasanya sangat semangat, sangat excited untuk balik lagi ke kampus.
Dikasih kesempatan luar biasa yang harus dimanfaatkan sebaik2nya.
Akan sangat bahagia kalo bisa bareng sahabat2 kesayangan, temen bercerita dan berdiskusi ala 'warung kopi'. Akan lebih bahagia kalau bisa wujudkan mimpi2 yg selama ini jadi obrolan angkot, obrolan ringan, tapi bermakna. Selama ini segala ide, unek2, dan mimpi tentang fk unpad hanya jadi wacana, tapi dari situlah justru pemikiran2 unik terbentuk.
Fk unpad butuh manusia2 yg semangat berkembang dan mengembangkan. Fk unpad butuh kalian, teman2!
Aku tunggu di fk unpad! :)

Rabu, April 23, 2014

Belajar dari keadaan

Mencoba mencerna ungkapan prof. Tri tentang "belajar menghadapi masalah". Ini emang masalahnya naik turun, bikin hati juga naik turun, bikin iman agak naik turun, dan bikin logika ikutan naik turun. Tapi harus dijaga tetap tenang, tetap stabil, tetap jernih akal dan hati. Berat memang, tapi harus bisa kalau mau lulus dari cobaan ini.

Ternyata kita bisa belajar banyak hal dari proses ini. Tiba2 liat neneng fulki ngepost di TL Line dengan kalimat "gak usah mati-matian ngejar yang gak dibawa mati". Sungguh nampol banget sama diri sendiri. Strike banget. Bikin nanya sama hati nurani, apa yang sebenernya lagi saya perjuangin? Ego saya? Mimpi saya? Keadilan hukum? Kepentingan publik? Atau memang kebenaran? Sungguh, Allah yang Maha Haq. Saya gak tau apa ini, tapi yang saya yakini saya sedang memperjuangkan apa yg saya anggap benar, dan semoga memang itu jalan kebenaran.

Kemudian naik turun nya emosi saya kepicu sama naik turun nya emosi sejawat2 saya. Sempet ikut naik. Sempet ikut emosi. Sempet jadi marah2. Sempet jadi galak. Tapi sejenak, semua mereda. Hanya sesaat, hanya nafsu. Aiihhh....memalukan. Sampai2 di pm sama adik angkatan, diingetin untuk gak ikut emosi, gak ikut marah2, gak ikut kebawa arus. Coba lihat lebih dekat, lihat lebih teliti, dan kuatkan langkah. Tenang, tapi tegas. Jaga akal sehat. Kalau emosi, akal sehat bisa hilang semua.

Belajar untuk kemudian nggak banyak galau di sosmed. Cukup seperlunya. Perbanyak galau sama Allah saja.

Saya pun sangat salut sama orang2 yg ternyata ada di atas sana yg menentukan kebijakan. Ini bukan soal mudah. Bukan soal yes or no. Tapi juga tentang banyak kepentingan. Butuh telaah lebih dalam, butuh ilmu lebih baik, dan butuh wawasan lebih luas. Dan tentunya butuh mental yang kuat dan hati yg tenang. Saya mau seperti mereka (dalam hal positif) yg luar biasa itu.

Dan saat ini saya menemukan dosen favorit saya lainnya, Prof.Dr.Med. Tri Hanggono Achmad, dr. Terima kasih banyak, prof atas ilmu nya. Meski pertemuan saya dengan beliau tidak begitu banyak, tapi sejauh ini prof tri telah memberi saya banyak ilmu, pengalaman, inspirasi, dan semangat. Terima kasih, prof. Alhamdulillah :)

Senin, April 21, 2014

Menghadapi masalah

Ada 2 hal yg saya cermati saat ini.
1. Saya selama ini ga lulus2 dalam menghadapi masalah
2. Saya sedang disiapkan untuk amanah yg lebih besar dari yg dibutuhkan saat ini

Lelah kadang, emosi naik turun, tapi logika gak boleh berhenti, gak boleh lengah, gak boleh lalai. Ingat, niatnya baik, niatnya tulus, dan tujuannya besar. Perbaikan bangsa. Jadi, tetap pada jalur, tetap berlindung dari godaan buruk, tetap semangat. Badai mah pasti berlalu, tapi seperti apakah after effect nya, itu yg harus dipikirkan dan dipertimbangkan.

Banyak2 istighfar. Saat ini saya lagi gak bisa nahan emosi massa. Saya bener2 bingung. Bener2 ga tau mesti gimana. Semoga jalan yg saya tempuh ini benar. Semoga apa yg diperjuangkan adalah untuk surga Allah. Semoga saya ga memperjuangkan semata2 untuk dunia. Semoga kali ini saya lulus. Semoga saya bisa amanah. Hati nurani bergetar melihat manusia2 disekitar seperti apa. Jaga hati.... Jaga diri... Jaga idealisme...

ISMKI vs CIMSA

Konyol memang kalau diingat. Dulu, waktu masih sangat aktif berorganisasi saya tergabung kedalam 2 organisasi besar di fakultas kedokteran se-indonesia ini. Di kampus, basis dari ISMKI adalah senat, sedangkan untuk CIMSA ada yang namanya CIMSA lokal. Saya adalah pengurus keduanya selama 2 tahun berturut2. 2 tahun itu cukup untuk saya memahami aksi nyata keduanya.

Kemudian datang tawaran untuk lebih aktif lagi di salah satunya, mulai dari diangkat sebagai koordinator wilayah, wakil sekretaris wilayah, dan hingga akhir 2012 saya jadi koordinator sebuah departemen nasional organisasi tersebut. Sangat paham segala hiruk pikuk organisasi tersebut. Ya, sebut saja ISMKI. Disana banyak isu beredar mengenai CIMSA. Saya yang juga pernah terlibat di kehidupan CIMSA, merasa heran. Rasanya apa yang dibicarakan gak segitunya. Banyak bumbu A, B, C, nya. Sungguh sensasi politik nya berhembus dimana2.

Dikampus, saya berteman sangat dekat dengan para aktivis CIMSA. Rasanya aneh, tiap bicara ttg organisasi selalu saja ada yg bertentangan. Sampai2 ada teman saya yang begitu tau saya cukup aktif di ISMKI, langsung antipati pada setiap aktivitas saya. Bahkan sampai ada yang frontal bilang, "Rim, lo anak ISMKI? Gw ga ngerti, kenapa sih ISMKI itu blablabla...."

Perpolitikan antar mahasiswa kok begini amat?
Sayapun mencoba mengalihkan fokus ISMKI dari yg tadinya berpikir banyak ttg CIMSA, jadi fokus pada aksi nyata untuk negri. Tapi sayangnya, karena satu dan lain hal, saat itu gak berhasil. Malah saya yang gagal memimpin. Kemudian setelah itu, saya berjanji akan melakukan banyak hal positif untuk membayar utang2 itu semua pada negri ini.

Dinamika politik sepertinya enggan pergi dari hidup saya. Sekarang saya dihadapkan pada permasalahan politik yg huwoooww melelahkan. Sangat lelah, sampai ingin nangis rasanya. Sangat bersemangat, karena ini salah satu momentum yg ga boleh terlewatkan untuk memperbaiki negri ini. Demi Indonesia yang lebih baik. Sampai2 ada teman saya bilang, "kok kamu tetap tenang, padahal kami2 sudah naik turun emosinya?". Saya cuma bilang, "kuncinya, yakin".

Kemudian saya mengingat banyak mimpi saya. Saya pernah bermimpi ingin jadi pejabat WHO. Melalui kesehatan, saya ingin jadi bagian dari perdamaian dunia. Melalui kesehatan, saya ingin hilangkan diskriminasi. Melalui kesehatan, saya ingin bangun pendidikan yg lebih baik. Dan melalui kesehatan saya bisa jadi bagian dari rahmat semesta alam. Ketinggian? Mungkin. Tapi teman saya ini bilang, "rim, harus ngeyel, tetep ngeyel. Karena ngeyel itu yg bedain orang beriman dan nggak".

Kembali ke polemik antar organisasi itu dan pengalaman saya saat ini yg kurang lebih efek dari perdebatan 2 pihak, saya belajar untuk terus ada diantara masalah. Saya belajar untuk punya endurance lebih. Saya belajar untuk mengatasi masalah dengan lebih bijak. Saya belajar untuk bisa lebih kuat. Saya belajar untuk punya keyakinan dan optimisme. Dan saya belajar untuk memahami banyak kepala, pandangan, dan ego.

Saya punya grup line bareng temen2 lulusan UKDI Februari 2014 se-indonesia. Disana belajar banyak, ketemu berbagai jenis manusia. Seru banget. Tapi saat ini saya nemuin 2 orang yang paling seru diajak ngobrol, sefrekuensi banget, dan kayanya kalo ketemu mereka saya ga usah ngomong pun mereka tau apa yg saya pikirin. Karena saat ini, via line pun sering begitu.

Tiba2, tadi saya diberikan satu fakta bahwa salah satu orang yg dekat sama saya ini adalah aktivis CIMSA. Bahkan pernah memegang jabatan paling tinggi disana. Sempet bingung beberapa detik. Bingung, kenapa dulu saya alay banget yaaa? Dulu saya jadi salah satu orang yg mikirin cara buat 'ngalahin' CIMSA, tapi pimpinan CIMSA nya saat ini jadi teman baik saya.

Yang menjadikan kita berselisih bukan orang didalamnya, bukan organisasinya, bukan tujuannya. Karena semua pada dasarnya adalah baik. Orangnya baik2, organisasinya juga baik, tujuan ya juga untuk kebaikan. Tapi ada ego yang bermain disana. Merasa memiliki organisasi tersebut, secara otomatis membentuk batasan yang nyata diantara keduanya. Dua kekuatan yang sama2 besar, sama2 baik, tapi tidak pernah bisa bersatu. Padahal kalau disatukan bisa jadi kekuatan syang sangat besar.

Ya Allah.....
Persatuan itu indah loh. Saat ini kami yg UKDI Februari bikin grup tanpa mandang latar belakang, tanpa mikirin status, tanpa mikirin siapa dia. Sungguh natural pertemanan kami. Dan kalau dipikir lagi, ngapain sih dulu saya segitunya mikirin perdebatan antara ISMKI dan CIMSA? Toh ketika sudah lulus, kita semua sama2 sejawat. Toh ketika sudah jadi sejawat, dia juga yang akan jadi teman diskusi, tempat konsultasi, dan sahabat berbagi.

Sama seperti 2 organisasi yang saat ini bikin kami galau berat. Ngapain ribut? Toh dilapangan dia juga yg jadi sejawat kita. Toh di lapangan, orang cuma tau dokter itu yaa dokter sesuai keahliannya. Bukan dokter dari organisasi A B atau C. Kecuali kalo yg jadi dokternya,Sp.IK, alias jago speak doang.. Hahahaha. Ujungnya gini, ga mengindahkan kesejawatan. 2 power yg kalau digabungkan bisa membangun perubahan bangsa yang jauh lebih baik, jauh lebih besar, jauh dari progres yang biasa. Gara2 ego masing2 jadi nya ga bisa ngasih efek besar untuk bangsa. Gara2 apa? Gara2 orang2nya ga berhasil ngalahin si ego, jadi pada mau menang sendiri.

Saran saya kalau ada anak ISMKI atau CIMSA yg baca ini, udahlaaahh rujuk aja.. Bikin satu kesatuan yg ga usah pikirin ego masing2. Kalo dari mahasiswa udah belajar egois sama organisasi, tua nya nanti kayak yg diatas sekarang, kan kacau. Jangan pernah belajar untuk terbiasa melakukan kesalahan, lama2 resisten dan menganggap yg salah itu jadi benar.

Persatuan itu indah.... Yukk belajar bijak memandang perbedaan.

Kalau kata prof.tri, ibarat memandang 2 rumah makan yg berbeda. Ada yg rame banget, ada yg sepi banget. Mau pilih yg mana? Pilih yg manapun ga ada yg salah. Yg menjadikannya tampak salah adalah kesesuaiannya dengan tujuan yg ingin dicapai. Jadi fokus pada tujuan asal dan hormati perbedaan dengan bijaksana :)

Selasa, April 15, 2014

Dreams.....uhhh lalalala~

Cita2 saya waktu kecil ada 3, dokter, guru, dan penulis. Saya ga pernah berpikir untuk mewujudkan ketiganya sekaligus, karena dulu saya pikir ini gak mungkin berjalan beriringan semuanya. Tapi saya ga pernah lupakan mimpi itu. Sampai saya lulus sma, saya masih gak rela milih salah satu dari ketiganya.

Setelah lulus SMA, saya harus buat 2 pilihan untuk SNMPTN. Orang bilang, saya gak mungkin jadi dokter dengan performance saya saat itu. Berbagai upaya saya lakukan, hingga akhirnya saya memutuskan untuk menjadikan dokter sebagai prioritas cita2, guru sebagai prioritas kedua, dan menulis.....entahlah, saya hanya berharap itu bisa jadi sambilan saya.

Saat ini, gelar dokter sudah saya raih, tinggal saya aplikasikan dalam hidup. Hanya saja, mimpi kedua dan ketiga masih menggelitik di pikiran saya selama 6 tahun kuliah. Ternyata, saya bisa aja jadi guru sambil jadi dokter. Kalau nggak, siapa yang akan ngajarin dokter? Saya pun kuatkan niat untuk apply dosen FK Unpad. Ini baru selesai interview, entah apa hasilnya, semoga Allah beri yang terbaik :)

Saya kemudian berpikir lagi untuk mimpi ketiga, menulis. Pulang dari belanda, saya banyak berpikir tentang ilmu2 yg dulu dipegang islam dan kini tidak lagi terdengar suaranya. Kenapa? Karena penelitian yg membawa harum nama islam tidak terdengar kumandangnya. Apakah penelitian itu masih berlanjut? Hal ini membuat tawaran asistensi penelitian jadi hal sangat menarik buat saya. Ini salah satu jalan da'wah lainnya. Menulis ilmu melalui penelitian. Sama2 jadi "penulis", kan?

Dreams come true. I never expect this much before. I just think these are coming really early, but i have to prepare the best of me, sooner better.

Popular